Belajar Dari Florence

Lihat kasus Florence Sihombing kemarin, kini saya jadi selalu lebih berhati-hati. Kini kita tidak boleh gegabah mengeluarkan pendapat, pernyataan atau sekadar berkomentar, khususnya di dunia maya. Sebab kalau ada yang merasa di rugikan dari pendapat tersebut, Anda bisa saja terkena UU ITE.

Memang pernyataan Florence di media sosial Path tersebut mendapat beragam komentar dari masyarakat. Yang paling vokal tentunya dari masyarakat Jogja. Ketika pernyataan Florence itu tersebar, langsung saja hujatan dan kecaman tertuju kepada mahasiswi S2 UGM ini. Masyarakat Jogja gerah dengan pernyataan Florence yang menghina masyarakat Jogja.

Florence pun sampai dipanggil pihak kepolisian. Dia dianggap melanggar UU ITE dan sampai sempat ditahan hingga akhirnya dilepaskan. Dia pun juga diadili oleh kampusnya lewat siding etik karena ulahnya itu. Dan akhirnya Florence pun kembali meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Jogja setelah sebelumnya ia meminta maaf lewat kuasa hukumnya, namun permintaan maaf yang pertama itu tidak begitu digubris oleh masyarakat.

Nampaknya Florence mandapat pelajaran dari kejadian ini. Ia mendapat sanksi sosial yang cukup keras dari masyarakat, bukan hanya dari warga Jogja saja, sampai-sampai media internasional juga ikut menyoroti dia. Sepertinya masyarakat pun mulai luluh dan memaafkannya dengan menolak melanjutkan kasusnya di kepolisian. Sejumlah LSM pun menyatakan sebaiknya kasus Florence ini tidak usah dilanjutkan. Budayawan yang asli Jogja, Butet Kateredjasa pun ikut berkomentar. Ia juga menyarankan agar kepolisian tidak perlu melanjutkan kasus itu.

Kedepannya mungkin Florence akan lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan statement. Ini juga menjadikan pelajaran bagi kita, bahwa kita tidak bisa seenaknya berpendapat meskipun itu di dunia maya. Saya sendiri belajar dari kasus ini, sebaiknya kita lebih hati-hati dan lebih baik pula kita mengeluarkan pendapat secara baik dan upayakan kita tidak menyinggung orang lain, meskipun kita berada dipihak yang benar. Dan meski pula kita ini negara demokrasi, tetap aturan dan norma harus kita jaga.

MRK/4/9/2014

Advertisements

About M. Ryan Kurnia

Penulis & Pengamat Manajemen. Chairman of Ryan Kurnia & Co. (Follow: id_ryankurnia & E-mail: suratryankurnia@gmail.com)
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s