Belajar Hemat, Itu Langkah Smart

Hidup diperkotaan memang membutuhkan biaya yang tidak murah. Segalanya membutuhkan biaya yang cukup mahal. Dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan untuk penunjang gaya hidup, butuh dana yang bagi kebanyakan orang tidak sedikit. Maka tidak heran, kalau orang kota itu cenderung boros dalam segala hal, dikarenakan kebutuhan dan tuntutan.

Sekarang banyak orang yang jadi konsumtif. Mereka kebanyakan konsumtif disebabkan oleh lingkuangan sekitar. Apalagi bila itu tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus dipenuhi. Di Jakarta misalnya, kebutuhan dasar cukup mahal. Parahnya lagi, itu tidak diimbangi degan pendapatan yang cukup. Jadi, antara pengeluaran dan pendapatan berbeda jauh. Peribahasanya: besar pasak daripada tiang. Dan ini tentu mengkhawatirkan.

Saya pun ikut merasakannya. Ketika saya masuk dunia kerja, kebutuhan dan tuntutan hidup meningkat tajam. Sedangkan waktu itu pendapatan saya masih minim. Namun perahnya, pengeluaran saya dalam sebulan melebihi pendapatan. Nah, setelah saya hitung-hitung lagi, banyak uang keluar yang tidak semestinya. Belanja pakaian, pulsa yang tidak wajar, namun yang paling besar sih rokok, Saya bisa menghabiskan sebulan seratus ribu lebih, tapi itu masih sedikit bila dibandingkan teman-teman saya yang bisa sebulan sampai 300 ribu lebih.

Nah, yang selalu saya soroti masalah rokok ini. Kalau misalnya kita boros karena beli pakaian misalnya, ya itu tidak masalah, karena itu kan berguna. Tapi kalau rokok? Ini yang menjadi masalah krusial diperkotaan. Ini juga yang menjadi masalah pemerintah yang belum selesai hingga kini. Dan ini tentu menjadi salah satu sebab kenapa sebagian masyarakat kita tidak beranjak dari pusaran kemiskinan. Lha wong uangnya banyak dihabiskan untuk beli rokok.

Tentu masalah rokok ini bagian dari tidak hematnya masyarakat kita, bukan hanya dikota, di desa pun juga sama. Untuk itu, pemerintah bersama BI meluncurkan program menabung nasional. Ini untuk merangsang agar masyrakat kita suka menabung untuk masa depan mereka sendiri. Tapi kalau menurut saya ini bukan jalan keluar yang efektif, sebab disisi lain pemakaian kartu kredit juga meningkat. Dan itu tentu yang juga ikut membuat masyarakat kita jadi konsumtif, karena bertransaksi jadi kian mudah.

Kini pun saya juga sedang belajar hemat. Saya sadar kalau hidup boros itu hidup tidak membuat hidup kita jadi bercukupan. Karena buat saya, hidup itu tidak harus kaya seperti konglomerat. Hidup sederhana dan serba kecukupan itu sudah cukup bagi saya. Nah, salah satunya dengan berhemat, karena hemat itu langkah yang smart!

MRK – 3/9/2014

Advertisements

About M. Ryan Kurnia

Penulis & Pengamat Manajemen. Chairman of Ryan Kurnia & Co. (Follow: id_ryankurnia & E-mail: suratryankurnia@gmail.com)
This entry was posted in Catatan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s