Menengok Krisis 2008 Lalu

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dalam tulisan tersebut beliau menceritakan mengenai krisis global 2008 lalu, yang sampai menewaskan bank investasi kelas dunia, Lehman Brothers. Perusahaan tersebut akhirnya tewas setelah sahamnya jatuh berguguran membuat nafas perusahaan yang didirikan oleh Lehman itu habis.

Sanking dahsyatnya krisis tersebut, sampai-sampai membuat pemerintahan Amerika Serikat (AS) harus mengeluarkan dana hingga $700 Milliar atau sekitar Rp. 7000 Triliun, untuk menyelamatkan perekonomian negara. Dan itu tentu menyalahi kodratnya sebagai Negara penganut kapitalisme. Namun tetap saja, dana ukuran sebesar itu belum mampu meredakan krisis yang juga menimpa sebagian perusahaan-perusahaan besar.

Ketika krisis itu terjadi, tentunya saham-saham perusahaan dunia ikut terkena dampaknya. Banyak perusahaan yang harus kehilangan uang miliaran dollar dalam sehari dikarenakan sahamnya anjlok. Itu juga yang membuat orang-orang kaya dunia turun harta kekayaannya, seperti Warren Buffet dan Bill Gates yang harus rela hilang hartanya hingga miliaran dollar.

Krisis tersebut tentu membuat ngeri, apalagi bagi Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun untungnya, kita tidak terlalu besar terkena dampaknya meski kita pun juga terkena, tetapi itu tidak terlalu parah dibandingkan krisis moneter tahun 1998 lalu yang hampir membuat negara kita bangkrut. Akan tetapi kita harus bersyukur, sebab, kita bisa belajar banyak dari krisis 98 itu hingga akhirnya kita bisa bertahan melawan badai krisis 2008.

Banyak orang suka bertanya, apa dampaknya bagi masayarakat, khususnya masayarakat kecil. Tentu ada dampaknya. Saat krisis 2008 lalu, keluarga saya merasakan langsung dampaknya. Mungkin bagi kalangan menengah dan atas krisis tersebut tidak terlalu terasa, namun bagi masyarakat kecil sedikitpun akan terasa dampaknya. Apalagi kalau misalnya ditambah inflasi yang menjunjung tinggi. Bapak saya waktu itu dirumahkan, karena pabrik tempat kerjanya terpaksa harus berhenti beroperasi karena kehilangan order dari customer-nya yang rata-rata dari luar negeri. Yang namanya dirumahkan, pendapatannya pun tentu tidak seperti bekerja. Hal itu pasti akan berdampak langsung pada perekonomian keluarga.

Di era globalisasi ini kita tidak boleh lupa bahwa, krisis disuatu negara akan berdampak kepada negara lain, apalagi negera tersebut negara raksaksa seperti Amerika. Kalau misalnya terjadi krisis dinegara tersebut, negara yang akan juga terkena pasti Negara berkembang, karena kegiatan ekonomi itu saling berkaitan dari satu negara dengan negara lainnya. Ujung-ujungnya yang kena pasti orang kecil juga.

MRK – 3/9/2014

Advertisements

About M. Ryan Kurnia

Penulis & Pengamat Manajemen. Chairman of Ryan Kurnia & Co. (Follow: id_ryankurnia & E-mail: suratryankurnia@gmail.com)
This entry was posted in Catatan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s